Minggu, 20 April 2014

Tanyaku [2]

Apa yang ada dalam pikirmu? Apa? Aku tak berani untuk sekadar menebak. Haruskah aku bertanya? Tapi, pada siapa? Tak mungkin juga padamu. Egoku sebagai perempuan masih saja mendominasi. Aku tak akan melakukan itu. Aku tak mungkin bertanya perihal perasaanmu padaku. Aku terlalu takut tanya itu akan menjadi sebab kau menjauhiku karena saat ini aku merasakan begitu nyaman di dekatmu. Ah, aku memang terkadang mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi, atau bahkan mungkin tak akan terjadi. Mungkin bisa kukesampingkan saja dulu rasa ini sejenak. Aku tak ingin terlalu berharap. Aku hanya ingin menikmati setiap waktu di dekatmu. Itu saja. Aku bahagia. Sesederhana itu.

Bisakah ada jeda sejenak? Meski aku tak menginginkannya. Aku yang dalam beberapa jenak masih saja memikirkanmu. Tentang kita esok hari. Hah? tentang kita? Mungkin saja hanya tentang egoku yang tak ingin jauh darimu. Benarkah aku menginginkanmu seutuhnya? Benarkah rasa yang masih sulit kuartikan ini? Masih terlalu banyak tanya yang berlalu lalang dalam pikiranku.

Perempuan itu melepaskan kacamatanya dan kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Pintu kamarnya ia kunci dan lampu kamarnya pun dimatikan. Bahkan hape-nya pun dinonaktifkan. Dia ingin menghabiskan waktu beberapa jenak dengan dirinya sendiri dalam gelap, sunyi, tanpa hingar bingar dunia luar. Ia menikmatinya, mencoba berbicara pada dirinya sendiri. Seolah coba menalar dan memainkan logikanya. Mencoba mencari jawab atas tanya yang berserakan dalam pikirannya. Tentang laki-laki yang beberapa bulan belakangan cukup dekat dengannya.

Hidup ini terkadang aneh juga. Gumamnya. Sesekali tertawa. Menertawai dirinya sendiri. Karena menurutnya, hidup itu hanya butuh ditertawakan untuk membuatnya lebih indah.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;