Selasa, 08 April 2014

Tanyaku

Ada waktu yang tak ingin ku akhiri ketika di sampingmu. Ada spasi yang ingin kuhapus ketika bersamamu. Tapi, selalu kusadar bahwa itu tak mungkin. Karena dari awal kita memang berbeda dan aku menyadarinya. Setiap pertemuan pasti akan diikuti oleh perpisahan, cepat atau lambat perpisahan akan tiba. Aku takut, jujur aku belum mampu membayangkan jika hari-hariku nanti tanpamu. Aku telah begitu terbiasa dengan hadirmu.

Entah kenapa, tiba-tiba Adit berpikir tentang hal itu. Sejenak ia merasakan sesak ketika memikirkannya. Dia tak ingin kehilangan Dini. Perempuan berkacamata itu telah larut di setiap lekukan dalam otaknya, dalam setiap imaji yang ia bangun dalam pikirannya. Lekat.

Bisakah aku mencegahmu untuk tak pergi nantinya? Bisakah aku memintamu untuk tetap tinggal disini? Ah, kenapa juga aku berpikir seperti ini. Mungkinkah ini karena begitu takutnya aku kehilanganmu? Jika pun demikian adanya, akan kunikmati setiap detik di sampingmu.

Ah, resah itu masih saja memenuhi benakku. Ketakutan-ketakutan tak beralasan mulai menyerangku satu persatu, seolah menguji kebenaran akan rasa padamu. Bertanya pentingnya hadirmu untukku, layakkah kupertahankan atau harus kulepaskan. Bertanya tentang rasa yang mulai berani kusebut 'sayang'. Bertanya apapun yang membuatku berpikir tentang rasaku. Nyatakah rasa itu? ataukah hanya sekadar fatamorgana rasa karena sepi yang sudah terlalu lama menemaniku? Aku hanya berteman gelap kali ini, pekat menyelimutiku kala hujan semakin menderas. Esok, masihkah kujumpai dirimu yang sama?

Masih dalam rasa yang campur aduk, Adit mengambil handphone-nya kemudian mengetikkan nomor hp Dini. Dia sudah sangat hapal ternyata. Telpon... tidak... telpon... tidak... telpon saja deh, tapi mau bilang apa? ah, sudahlah... pokoknya telpon saja.

Dialling... Dini...

"Halo... Dini..."
"Iya Dit, ada apa?" tanya Dini.
Jangan bertanya ada apa, karena aku bahkan tak tahu ada apa, aku hanya ingin mendengar suaramu. Itu saja.
"Ada apa ya... mmm... ada kopi, teh, mau pesan apa?" kata Adit mulai menyamarkan maksudnya menelpon.
"Hahaha... kamu  ini, ada apa sih?"
"Gak kok, cuma mau dengar suaramu saja" jawab Adit dan kemudian menutup telepon.

Maaf Dini, mungkin tak seharusnya kuucap itu. Mungkin hal bodoh seperti itu tak seharusnya kulakukan. Bodoh memang, tapi hal apa yang bisa membuatku sebodoh itu? Semoga kamu tak berubah Dini.

Perempuan berwajah oriental dan berkacamata itu masih duduk manis dalam pikirannya. Beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk di handphone Adit. Pengirimnya, Dini.


*bersambung...*

0 komentar:

Posting Komentar

 
;