Jalanan masih tampak lengang pagi itu, meski sudah pukul sembilan lewat beberapa menit. Adit dengan santai mengendarai motornya menuju rumah Dini, setelah sebelumnya dia mengabari kalau sudah berangkat kesana. Tersenyum dalam dunianya sendiri. Berteman mp3-player yang setia menemaninya. Headset hanya dipasang satu di telinga kirinya agar ia tetap konsentrasi dalam berkendara. Sebuah lagu dari Secondhand Serenade mengalun dari mp3-player kecil yang ada di saku celananya. Fall For You, mungkin cukup mewakili suasana hatinya. Menjemput secagkir teh hangat yang seharusnya ia temui semalam. Because a girl like you is impossible to find, you're impossible to find.
Tentu saja, waktu serasa melambat baginya. Mungkin ia sedang jatuh cinta. Perasaan yang masih saja selalu coba ia tepis. Menyamarkannya dalam rasa 'sayang' yang lebih sering ia ucap dalam hati. Dan sepertinya Dini tak perlu tahu tentang itu. Mungkin juga seharusnya ia tahu. Hanya pertanyaan seperti itu yang ada dalam kepala Adit setiap harinya. Pertanyaan yang sangat mudah, tapi terkadang bisa menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Hahaha... manusia aneh.
Beberapa menit kemudian Adit tiba di depan rumah Dini. Turun dari motor dan kemudian membuka pintu pagar rumah bercat putih itu. Ia langsung saja masuk dan mengetuk pintu.
"Spadaaa... morning..." kata Adit dengan isengnya menirukan orang-orang yang bertamu dalam film-film yang sudah ia tonton. Tentunya sambil mengetuk pintu. Hatinya sangat berbunga-bunga, akan bertemu seseorang yang masih sulit ia ceritakan pada orang lain. Ia masih begitu sulit untuk mendeskripsikannya.
"Iyaa... tunggu bentar..." sahut Dini dari dalam rumah.
Adit pun kemudian duduk di kursi yang ada di teras rumah Dini. Dan masih senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian, Dini pun membuka pintu. Deg, Adit terhenyak, diam dalam beberapa detik yang tak bisa ia jelaskan. Berusaha mengambil alih kembali kuasa atas dirinya yang sempat terlepas. Perasaan yang sama ia rasakan ketika bertemu Dini. Hanya bisa menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Selalu tampak ketulusan dari tatapan Dini meski dari balik kacamata bening itu. Perempuan berkacamata itu sekali lagi menghipnotisnya.
"Dit..., gak masuk?" tanya Dini yang membawa Adit kembali menapak bumi.
"Eh, iya... di dalam ada siapa?
"Gak ada orang, aku sendiri aja di rumah."
"Ya udah, kalo gitu disini aja, gak baik kalo cuma berdua dalam rumah..." kata Adit seraya tertawa.
"Okelah, aku ambil dulu tehnya."
Beberapa detik kemudian Dini pun kembali dengan secangkir teh hangat di tangannya. Dengan senyumnya, sepertinya teh itu tak lagi butuh gula. Adit masih menatapnya lekat sampai Dini duduk disampingnya dan meletakkan secangkir teh itu di atas meja.
"Silakan diminum tehnya, ini udah aku hangatkan kok, teh yang semalam.. hahaha" kata Dini.
"Heh? beneran?"
"Ya... nggaklah.. tadi baru kok dibuatnya."
"Ini beneran teh kan? bukannya air yang gosong? hahaha..."
"Hahaha... mana ada air yang gosong..."
"Manis juga ternyata, seperti..."
"Seperti apa Dit?"
"Mmm... gak, gak jadi... hehe"
Dini..., tanpa gula pun, aku yakin teh ini terasa manis yang penting ada kamu di sampingku. Senyummu sudah lebih dari pemanis apapun. Lebihnya lagi bisa menawarkan hangat di balik senyummu. Tatapanmu terasa begitu menenangkan meski dari balik kacamata. Mungkin seperti inilah pagi yang ingin kujumpa setiap harinya. Denganmu, mungkin suatu saat nanti.
*bersambung...*
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
makassiihh *benerin kacamata* B) haha
hahaha... tunggu saja kelanjutannya yang mungkin tak pernah kau duga.. #ehh.. hahaha
Posting Komentar