Aku mulai lelah. Meski tahu, pasrah bukanlah pilihan. Apa aku salah? Menyerah pun bukan pilihan. Selalu saja ada resah yang mengelilingi, tapi... jauh... jauh di dalam hati kecilku ada keyakinan yang sangat kuat. Meronta, berontak ingin terlepas. Tak pernah ada yang tahu ujung dari kisah ini. Mungkin akan kutulis nantinya. Mungkin kujadikan hadiah untuk kalian. Mungkin juga hanya kusimpan sebagai kenangan.
Masihkah ada waktu? Masih. Pertanyaan yang dengan mudah kujawab sendiri. Sampai kapan? Aku terdiam. Tak banyak yang tersisa. Lalu, kenapa berhenti? Entah. Aku terjebak, dalam ego dan idealisme yang kubangun. Aku tak ingin kalah, tak pernah mau mengaku kalah sebelum akhir. Aku keras kepala. Dan tak jarang, aku enggan untuk mendengar. Dimana susahnya? Entah. Sekali lagi kujawab seperti itu. Lalu, untuk apa berhenti? Apa yang kau tunggu? Tak ada. Ah, maksudku... aku tak tahu.
Ada hal yang ingin kutumpah. Ada hal yang ingin kuteriakkan. Sesaknya begitu terasa. Entah apa itu. Tapi kurasa, tak ada siapa pun yang bisa menjadi tempat kutumpahkan segala keluhku. Apa kamu bisa? Ah, pertanyaan bodoh. Kurasa kamu pun tak bisa. Kamu sama saja sepertiku. Kita kan sama, hanya terpisah oleh sebuah cermin datar. Ingin kupecah, takut berdarah.
Hei, dengarkan ini... kita memang sama, kamu adalah aku, dan aku adalah kamu. Tapi ada perbedaan mendasar di antara kita. Kamu hidup di dunia nyata, sedang aku... hanya hidup di dunia cermin yang merupakan bayanganmu sendiri. Hahaha... aku menertawaimu, serius. Kamu begitu pengecut. Yah, kutegaskan kamu adalah pengecut. Terlalu mencemaskan apa yang belum atau bahkan tak akan pernah terjadi. Usah berdusta... kecemasan itu tampak jelas dari wajahmu. Dari sorot matamu yang tak lagi seperti biasanya dalam beberapa bulan terakhir. Pikirmu, aku tak memperhatikanmu? Bodoh, tiap hari kamu bercermin, dan semakin tampak resah dari raut wajahmu. Mungkin mereka bisa kau bohongi, dan berkata semua baik-baik saja. Tapi aku, sama sekali tidak. Mungkin aku adalah satu-satunya sosok yang bisa berkata jujur ketika duniamu membohongimu bahkan ketika kamu berbohong pada dirimu sendiri. Sekarang, semuanya terserah padamu. Berhenti membuat alasan. Selesaikan apa yang telah kamu mulai!!!
Sudah ceramahnya? Bahkan sepagi ini kau sama sekali tak memberiku kesempatan untuk membela diri. Tapi, benar. Apa yang kau katakan sangatlah benar.
Masih ada satu hal. Ingat, resahmu itu bukan apa-apa. Keluhmu pun tak ada gunanya. Serius, itu hanyalah akal-akalan yang kamu buat sendiri untuk membuat suram duniamu. Padahal, tak ada satupun yang pantas kamu keluhkan. Semua inginmu dengan mudahnya kamu dapatkan. Lalu, mau apa lagi? Kamu itu tak tahu bersyukur dan juga tak tahu terima kasih. Gunakan otakmu, berpikir. Tak ada jalan buntu, yang ada hanya jalan berliku yang mungkin sedikit lebih panjang. Gunakan hatimu, rasakan. Masihkan ada keinginan disana untuk mencipta bahagia? Ingat, ini bukan hanya tentang dirimu sendiri tapi juga tentang orang-orang disekelilingmu. Berhenti menuhankan egomu, kepala batu. Kuingatkan kata-kata yang sering kamu ucap sendiri. Bukankah menurutmu hidup itu bukan semata tentang apa yang bisa kita dapatkan? tapi lebih kepada apa yang bisa kita berikan. Berikanlah bahagia pada orang-orang disekelilingmu. Pada orang-orang yang kamu cintai. Itu cukup, jika kamu tak mampu memberi lebih daripada itu.
Baiklah. Terima kasih.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar