Invasi
besar-besaran dilakukan oleh hantu-hantu ke dunia manusia dalam sebulan
terakhir, mereka mulai menguasai jalan-jalan protokol sampai gang-gang sempit
dan jalan buntu. Hantu-hantu ini tidak hanya didominasi wajah lama, seperti
kuntilanak, sundel bolong, si manis jembatan bolong tapi juga didominasi oleh
hantu-hantu pendatang baru seperti suster ngesot, pocong ngesot, nenek gayung,
dan masih banyak lagi. Mereka berpesta pora merayakan kesuksesan mereka
mengeliminasi manusia dari dunianya sendiri.
Di seberang jalan, tampak ada
sebungkus pocong sedang melompat-lompat dengan setengah hati sambil terus
menunduk. Ia tak turut dalam perayaan para hantu. Sepertinya ia sedang
dirundung kegalauan. Rupanya tak hanya manusia yang bisa mengalami kegalauan
melainkan pocong pun juga. Mungkin karena ia pernah menjadi manusia dan bisa
saja ia meninggal dalam keadaan galau.
Beberapa saat kemudian ia melompat
jauh ke atap sebuah rumah yang cukup tinggi. Ia kemudian duduk dan
memperhatikan kekacauan di sekelilingnya yang disebabkan oleh para hantu. Di
sampingnya ada seekor kucing yang juga sejak tadi memperhatikan ulah para
hantu.
“Ngeooong…” kucing itu tiba-tiba
bersuara.
“Cing… kucing... kucing… eh, kucing”
pocong itu pun terkaget karena ia tak menyadari keberadaan kucing itu di
sampingnya.
“Eh, ciiiiiiiingg…, kamu bikin kaget
saja” kata pocong itu dengan nada seperti layaknya gadis-gadis yang bertemu
dengan sebayanya untuk arisan.
“Kenapa Cong? Kaget ya? Hehe…” jawab
kucing itu seolah tak bersalah.
“Cong, cong, memangnya saya bencong?
Eh, cing… saya heran… saya kok bisa kayak gini ya...? kaki terikat, seluruh
tubuh dibungkus kayak permen”
“Siapa juga yang bilang bencong,
kamu kan pocong” jawab kucing itu.
“Pocong? Saya pocong?” tanya pocong
itu seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Iya, kamu tuh pocong. Kan yang
dibungkus kayak gini, dengan kaki dan kepala terikat, trus bisanya cuma lompat
namanya pocong”
“Iya ya? Ah, ini mungkin karena
kepala saya terbentur di nisan saat bangun dari kubur tadi, makanya saya lupa
kalau saya ini pocong”
“Kamu amnesia tuh Cong…” kata kucing
itu.
“Amnesia?” tanya pocong itu.
“Iya, amnesia atau lupa ingatan…”
jawab kucing itu menjelaskan.
“Amnesia itu kan kurang darah
Ciing…, bukan lupa ingatan…”
“Lah? Siapa yang bilang? Amnesia itu
lupa ingatan, kalau kurang darah itu namanya anemia” jawab si kucing mulai
sewot.
“Waktu saya hidup dulu, saya sempat
belajar kalau amnesia itu sebenarnya kurang darah, bukan lupa ingatan”
“Kok bisa? gimana caranya?”
“Nah, kalau orang amnesia itu kan
dasarnya lupa, jadi bisa saja dia juga lupa tidur, trus kalau lupa tidur kan
otomatis dia kurang tidur, nah orang yang kurang tidur itu bisa mengalami
kurang darah. Jadi, amnesia itu sebenarnya kurang darah, bukan lupa ingatan
Ciiiing” jawab pocong itu menjelaskan.
“Dasar pocong amnesia, setreess”
kucing itu teriak dan meninggalkan si pocong amnesia itu.

0 komentar:
Posting Komentar