Minggu, 08 Juli 2012

Rekonstruksi Pola Pikir

Merekonstruksi pola pikir bukanlah hal mudah, tapi bukan berarti tak mungkin atau tidak bisa. Bisa dilakukan dengan hal-hal kecil dulu. Kalau saya sih lebih sering mencoba berpikir kebalikan dari apa yang dilihat atau dipikirkan kebanyakan orang tentang suatu hal. Entah positif atau negatif. Dengan begitu, saya bisa melihat sisi yang berbeda dari berbagai hal, dan melihatnya pun bukan hanya satu sisi melainkan banyak sisi. Untuk melakukannya pun mudah, tinggal mengubah posisi saya saja.

Nah, tadi saya sempat main-main di dua situs jejaring sosial yang sangat populer. Disitu saya menemukan hal menarik. Kebanyakan teman-teman saya update status tentang "Indonesian Idol" yang mencapai malam puncaknya atau tentang "OVJ Award" yang ada di stasiun tivi sebelahnya, pun dengan laga "Indonesia vs timor Leste". Sebenarnya sah-sah saja ketika mereka 'hobi' dengan hal seperti itu. Tapi, dalam pandangan saya, sebenarnya tanpa sadar kita telah dijebak dalam pola pikir yang 'konsumtif' bahkan pola hidup pun 'konsumtif'. Kita hanya bisa menonton atau lebih halus sedikit disebut 'penikmat'. 

Kita sering disuguhi acara-acara televisi seperti di atas yang sebenarnya dapat 'mengunci' pola pikir kritis kita dan secara tidak langsung 'menjajah' pola pikir kita. Jika kemudian mau dipikir lagi, sebenarnya manfaat apa yang diperoleh dari itu semua? Kalaupun di-list baik buruknya, kira-kira lebih banyak mana ya?. Dari segi hiburan mungkin iya, tapi kalau sampai 3 atau 4 jam duduk menjadi penonton setia, tak ada manfaat yang lebih baik saya rasa. Itu baru dari sisi televisi yang dibawa ke jejaring sosial.


Masih dari jejaring sosial, ada statemen yang menarik perhatian saya tadi, kurang lebih seperti ini "TUHAN TIDAK PERNAH MEMBERIKAN COBAAN MELEBIHI KEMAMPUAN UMATNYA, TAPI DOSEN SELALU MEMBERIKAN UJIAN MELEBIHI KEMAMPUAN MAHASISWANYA". Nah, sepintas memang ini hanyalah sebuah lelucon, tapi bisa jadi tidak se-simple itu. Saya memperhatikan penggunaan katanya, biasanya jika menyangkut antara Tuhan dan manusia itu (sepemahaman saya), kita memakai kata "hamba-Nya" bukan "umat-Nya". Itu hanya pemakaian kata yang saya rasa tidak cocok. Hal berbeda kemudian jika kita membandingkan dua hal yang tidak setara antara Tuhan dan Dosen (manusia). Pun dengan statemen seperti di atas seolah Dosen itu yang notabene merupakan manusia lebih hebat daripada Tuhan yang menciptakannya. Sebagai mahasiswa yang berpikir, statemen seperti ini saya pikir tidak pantas dikeluarkan oleh yang menyebut dirinya 'mahasiswa' walaupun hanya sebatas lelucon, karena hal-hal seperti ini malah dapat menjadi sensitif ketika dibawa ke ranah agama.

Dibandingkan dengan membuat lelucon yang tidak memiliki manfaat, alangkah lebih baiknya jika kita memikirkan hal-hal yang lebih baik. Akan lebih baik jika kita menjadi orang-orang yang kritis tapi kreatif dan berpikir solutif dan konstruktif dibandingkan hanya kritis, konsumtif dan cenderung destruktif.

Ini hanya cara pandang saya, kalau berbeda dengan kalian ya tak apa karena memang kita diciptakan berbeda-beda.
Just share aja... hehe


#mikir di tengah malam "efek kopi-insomnia"


0 komentar:

Posting Komentar

 
;